082233166661 adholiday.id@gmail.com
Aneka Motif Batik Jogja yang Bisa dijadikan Oleh-oleh

Aneka Motif Batik Jogja yang Bisa dijadikan Oleh-oleh

Rental mobil Jogja untuk menjelajahi seluruh kota gudeg tak lengkap rasanya tanpa menghadiahkan batik sebagai oleh-oleh bagi sanak keluarga di rumah. Selain menyuguhkan wisata alam yang menakjubkan, Jogja juga memiliki destinasi wisata budaya yang tidak kalah menarik yakni batik. Maka tak heran jika batik menjadi salah satu alasan kedatangan turis baik lokal maupun internasional.

Batik Jogja adalah bagian dari budaya Jawa. Setiap motif yang tergambar di dalamnya tentu memiliki makna dan filosofi hidup masyarakat sekitar. Di lingkungan keraton Yogyakarta corak batik lebih didominasi oleh warna dasar putih. Polanya juga tidak kalah unik, gambar berukuran besar yang diantaranya dipermanis dengan nitik dan parang.

Bagi orang yang menyukai batik tentu nilai-nilai di dalam corak batik menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan selain bisa dijadikan oleh-oleh, tidak sedikit juga orang yang sewa mobil murah Jogja untuk mempelajari batik Jogja lebih dalam lagi. Berikut ini beberapa informasi mengenai jenis-jenis batik Jogja yang bisa dijadikan bahan referensi.

Aneka Motif Batik Jogja yang Bisa dijadikan Oleh-oleh
Aneka Motif Batik Jogja yang Bisa dijadikan Oleh-oleh

Batik Motif Kawung

Batik motif kawung identik dengan gambar empat buah lingkaran berbentuk elips mengelilingi sebuah lingkaran kecil sebagai pusatnya. Susunan gambar berbentuk memanjang berdasar garis diagonal miring ke sebelah kanan ataupun ke kiri selang seling. Empat gambar tersebut melambangkan empat mata angin yaitu:

  • Utara sebagai lambang gunung yang berarti tempat tinggal dewa
  • Timur sebagai lambang matahari terbit yang berarti sumber kehidupan
  • Barat sebagai lambang matahari terbenam yang berarti sumber turunnya keberuntungan
  • Selatan sebagai lambang zenit atau puncak segalanya

Batik motif kawung ini mengandung filosofi bahwa seorang raja merupakan episentrum yang dikelilingi rakyatnya. Sedangkan kerajaan adalah tempat pemerintahan, pusat seni, ilmu pengetahuan, perekonomian dan agama. Walaupun raja merupakan pusatnya akan tetapi raja juga berkewajiban untuk melindungi rakyatnya. Motif kawung juga memiliki makna bahwa seorang raja harus melambangkan kesederhanaan dan mengutamakan kesejahteraan rakyat.

Beberapa para leluhur mengatakan bahwa kawung merupakan jenis buah yang dihasilkan oleh pohon aren. Buah kawung disebut-sabut sebagai kolang-kaling. Akan tetapi ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kawung adalah sterilisasi dari lotus (teratai) yang melambangkan kesucian dan kesakralan.

 

Batik Motif Ceplok (Grompol)

Berbeda dengan batik motif kawung yang berupa bentuk lonjong, batik motif ceplok mencakup banyak desain geometris seperti binatang, bunga mawar ataupun gambar lainnya yang membentuk pola simetris. Dalam bahasa Jawa grompol berarti berkumpul atau menyatu. Gambar ini memiliki filosofi bentuk harapan orang tua akan semua hal baik menyatu seperti rezeki, kebahagiaan, kerukunan hidup, dan ketentraman bagi sepasang pengantin karena batik jenis ini sering digunakan dalam resepsi pernikahan.

Gerompol memiliki harapan agar kedua mempelai bisa mengingat keluarga besarnya ketika sedang bepergian. Harapan lain dari motif grompol adalah supaya seluruh sanak keluarga beserta tamu undangan bisa menyatu dalam pesta pernikahan yang meriah. Sangat menarik bukan?. Jika Anda sewa mobil murah di Jogja untuk liburan maka jangan lewatkan untuk membeli batik dengan motif ceplok sebagai buah tangan bagi calon pengantin.

 

Batik Motif Keris

Motif keris sering juga disebut sebagai batik motif parang karena bentuknya yang hampir sama. Namun masyarakat internasional menyebut motif ini sebagai batik motif pedang. Berbeda lagi dengan masyarakat Jawa, menyebut motif keris sebagai motif parang lidah api.

Dibanding motif lainnya, parang adalah motif batik yang paling kuat. Ciri khas dari motif parang adalah garis-garis yang disusun secara diagonal. Dari motif dasar, kini batik motif parang telah mengalami perkembangan menjadi beragam motif lain seperti motif parang kusuma, motif parang rusak, motif parang barong, motif parang lereng sobrah, motif parang pamo dan motif parang klithik.

Karena batik jenis ini dahulu ditemukan oleh seorang pendiri Mataram maka hanya bisa dipakai bagi kaum bangsawan saja dan rakyat jelata tidak boleh menggunakannya sehingga dimasukan dalam kelompok batik larangan.

Jika dilihat secara lebih mendetail, bentuk garis lengkung dalam batik motif larangan menyerupai ombak di lautan yang sering diartikan sebagai pusat tenaga alam. Ombak tersebut mengiaskan seorang pemimpin atau raja. Tingkat kemiringan garis melambangkan sifat-sifat raja seperti kekuasaan, kewibawaan, kebesaran dan gerakan ombak yang cepat mengandung pengharapan agar seorang raja bisa bertindak gesit. Motif parang yang digunakan oleh seorang dijadikan pedoman dalam menentukan tingkat atau drajat kebangsawanannya.

 

Batik Motif Nitik

Batik motif nitik memiliki pengaruh dari luar negeri yang berkembang pesat di sekitar jalur pantai utara Laut Jawa hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah motif batik yang indah. Menurut catatan sejarah, para pedagang dari Gujarat datang melalui jalur pantai utara Laut Jawa yang membawa barang dagangan berupa kain sutera. Motif kain khas Gujarat tersebut memiliki bentuk sangat indah karena dibuat dengan teknik dobel (Patola). Orang Jawa menyebutnya dengan kain cinde. Adapun warna yang digunakan dalam batik motif nitik adalah biru indigo dan merah.

Motif gambar berupa bujur sangkar dan persegi panjang semakin dipercantik dengan isen-isen seperti cecek 3 dan cecek 7. Selain itu, ada juga tambahan ornamen berupa klowong ataupun tembokan sehingga semakin memperindah warna dan bentuknya.

Layaknya batik dari keraton lain, batik motif nitik mengalami perkembangan hingga ke luar lingkungan keraton. Contoh dari bentuk perkembangan batik nitik adalah batik kreasi dari Ndalem Brongtodiningrat yang pernah meninggalkan jejak berupa dokumen yang terbuat dari kain mori dengan motif kalengan beserta 56 corak nitik.

Para wisatawan yang tertarik belajar atau membeli batik motif nitik ini bisa datang langsung ke Desa Wonokromo menggunakan armada dari jasa sewa mobil Jogja murah yang kami sediakan. Lebih tepatnya, lokasi desa ini berada di sekitar Kotagede.

Layaknya motif lain, batik nitik ini sering digunakan dalam upacara pernikahan dan memiliki makna filosofis. Motif cakar adalah salah satu contoh motif batik nitik yang sering digunakan dalam prosesi pernikahan. Penamaan cakar pada batik ini karena di dalamnya terdapat gambar yang menyerupai cakar ayam bagian bawah. Ayam biasa menggunakan cakar untuk mencari makan (mengais tanah).
Dari kebiasaan ayam tersebut yang mencari makan menggunakan cakarnya, dalam prosesi pernikahan dipilih motif cakar dengan tujuan supaya sang pengantin bisa mencari rezeki halal seperti yang dilakukan ayam. Nitik cakar ini bisa dijadikan motif batik sendiri ataupun digabung dengan motif lain sebagai pusatnya. Contoh dari perpaduannya adalah motif cakar dan motif sidodrajat serta motif cakar dan motif wirasat.

 

Batik Motif Truntum

Pencipta dari batik motif truntum adalah Kanjeng Ratu Kencana yang merupakan permaisuri dari Paku Buwana III. Batik motif truntum memiliki makna cinta yang bersemi kembali. Truntum dipilih oleh beliau sebagai wujud dari cinta tanpa syarat yang tulus, abadi dan terus berkembang atau istilah dalam bahasa Jawa tumantrum. Karena makna yang terkandung, batik truntum sering kali digunakan oleh orang tua mempelai di hari pernikahan. Batik motif truntum dimaknai juga sebagai orang tua harus menuntun pengantin memasuki kehidupan baru.

 

Leave a Reply

06:34